RSS

Fenomena Gunung Berapi

20 Feb

Bisa diperkirakan, hampir setiap tahun Indonesia tak pernah bebas dari bencana alam. Entah itu gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, banjir, gelombang tsunami, hingga gunung meletus.

Akhir tahu 2004 lalu penduduk dunia dikagetkan dengan gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias. Tragedi yang memakan ratusan ribu jiwa itu merupakan bencana alam terbesar yang menimpa bangsa ini. Indonesia pun “menangis” saat merayakan tahun baru 2005. Kini, bangsa kita dikejutkan lagi dengan kabar akan meletusnya Gunung Merapi.
Indonesia kaya dengan ragam sumber daya alam. Dari Sabang sampai Marauke, perkebunan dan tanaman berjajar penuh kehijauan. Lautan biru menyimpan sejuta kemilau bahari. Gunung yang menjulang tinggi mengandung energi alam. Dan, sungai yang memanjang pun mengalirkan sejuta kehidupan. Tak ayal, jika tongkat yang ditancapkan ke bumi bisa tumbuh dengan sendirinya.
Siapa yang tak percaya, kalau Indonesia memang kaya akan energi alam? Jika disebutkan satu persatu, hampir semua jenis energi alam dimiliki Indonesia. Sebut saja misalnya dengan minyak bumi, besi, emas, tembaga, dan perak. Indonesia menempati posisi cukup teratas di antara negara-negara luar. Belum lagi sumber alam yang bisa diperbaharui seperti beras, jagung, sagu, kelapa sawit, beras, dan lainnya.
Namun, ibarat terlupakan dengan penyebutan kelebihan itu, kita seakan tersentak dengan sejumlah tragedi alam yang menimpa bangsa ini. Bisa diperkirakan, hampir setiap tahunnya Indonesia tak pernah bebas dari bencana alam. Entah itu gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, banjir, gelombang tsunami, hingga gunung meletus yang saat ini mengkhawatirkan penduduk Magelang, Jawa Tengah. Semuanya seakan silih berganti “menghiasi” perjalanan hidup bangsa ini.
Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Merapi telah meletus 72 kali. Pertama terjadi pada 3.310 tahun silam dan letusan terhebat pada 1984. Anehnya, setiap letusan gunung selalu memicu gunung lain meletus. Saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, misalnya, Gunung Merapi juga “mengamuk” setahun kemudian. Usai itu, Gunung Kelud dan Gunung Semeru juga menyusul.
Sebenarnya, yang ditakutkan dari tragedi gunung meletus adalah lahar dan awannya yang panas. Tak tanggung-tanggung, jika itu terjadi, bisa memakan banyak korban jiwa. Bahkan pemerintah memprediksikan, jika Gunung Merapi meletus tanpa antisipasi lebih dini, maka bisa memakan korban sekitar 30.000 jiwa. Ini sangat mengerikan!
Padahal, kalau dikaji secara serius, alam beserta isinya adalah karunia termahal dari Allah swt. Gunung merupakan rizki yang dilimpakan oleh Allah kepada umat manusia. Dengan adanya gunung, misalnya, ekosistem kehidupan makhluk di muka bumi bisa terjaga (QS. al-Hijr: 19-20). Gunung berfungsi sebagai penyangga air hujan, sehingga tidak menimbulkan erosi atau banjir (QS. An-Nur: 44). Di samping itu, gunung juga bisa digunakan sebagai tempat tinggal dan objek wisata (QS. An-Nahl: 80). Di sana, biasanya, para pelancong menghabiskan masa liburnya untuk berteduh dan mencari kesejukan.

Manusia Itu Sahabat Alam
Bumi, gunung, sungai, dan lautan, adalah sahabat manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa keserasian ekosistem alam. Maka, antara manusia dan alam tidak sepatutnya saling melakukan “kejahatan”. Mencoba mengekploitasi alam bisa berakibat fatal pada keseimbangan kehidupan. Karenanya, manusia dan alam harus bisa hidup “bersahabat”.
Sayangnya, berdasarkan temuan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), di sekitar Gunung Merapi ditemukan adanya penambangan liar. Mereka mengekploitir kekayaan alam secara ilegal. Padahal, antara mereka (penambang liar) dengan yang diambil itu ibarat satu kesatuan tubuh. Allah menciptakan manusia dari bahan-bahan alam, -seperti dijelaskan dalam al-Quran- yaitu air (al-ma’), tanah liat kering (shalshalin kalfakhhar), sari atau ekstrak dari tanah (sulalatin min-thin), dan zat renik (turab).
Artinya, mengeksploitisir alam berarti melakukan pengerusakan pada diri sendiri. Allah melarang bersikap tidak adil pada diri sendiri (QS.an Nisa: 19). Jika manusia terbuat dari air, maka ia tidak seharusnya bersikap tidak adil pada air. Sebab, dua pertiga tubuh manusia terdiri dari air (QS. al Mursalat: 27). Jika ia tercipta dari tanah, maka ia tidak boleh “melukai” tanah. Dan, jika ia terbuat dari intisari tanah dan zat renik, maka ia juga jangan bersikap curang. Mengambil kekayaan alam harus sesuai dengan kadar nilai manfaat, dan tidak secara berlebihan.
Karena itu, Nabi mengajarkan pentingnya penghijauan, pelestarian dan pemeliharaan kekayaan alam. Sebagai makhluk di muka bumi, manusia hendaknya bersikap adil kepada sesama makhluk, termasuk alam. Nabi pun melarang umatnya melakukan pengrusakan alam, karena balasannya adalah neraka (HR. Abu Daud). Begitu pun sebaliknya, melestarikan alam bisa bernilai seperti sedekah (HR. Muslim).
Pentingnya pelestarian lingkungan telah diajarkan Nabi kepada para sahabatnya. Abu Darda’ menjelaskan, dirinya telah diajarkan Nabi tentang pentingnya bercocok tanam, menanam pepohonan, serta mengubah tanah yang tandus menjadi kebun yang subur. Sebab, perbuatan ini dapat mendatangkan pahala besar di sisi Allah swt. dan dicatat sebagai ibadah.
Jika Gunung Merapi benar akan meletus, sepatutnya perlu merenung. Sebab, bisa jadi ini merupakan peringatan atas ketidakadilan manusia pada dirinya sendiri. Seperti yang disinyalir Allah dalam al-Quran, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. al-Mukmin: 41). Wallahua’lam bis shawab.
syafrianto janker

Promosikan Halaman Anda Juga

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: